Berpijak Di Bumi Yang Nyata

Sabda Rasulullah s.a.w : “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu urusan baru dalam agama kami sedang ia bukan dari kami maka sesungguhnya ianya ditolak.” (Hadith sahih disepakati Bukhari 156 Jilid 8 & Muslim no.4467) .

Mengenai pengertian lailatul qadar, para ulama ada beberapa versi pendapat. Ada yang mengatakan bahwa malam lailatul qadr adalah malam kemuliaan. Ada pula yang mengatakan bahwa lailatul qadar adalah malam yang penuh sesak karena ketika itu banyak malaikat turun ke dunia. Ada pula yang mengatakan bahwa malam tersebut adalah malam penetapan takdir. Selain itu, ada pula yang mengatakan bahwa lailatul qadar dinamakan demikian karena pada malam tersebut turun kitab yang mulia, turun rahmat dan turun malaikat yang mulia. [1] Semua makna lailatul qadar yang sudah disebutkan ini adalah benar.

Adapun keutamaan lailatul qadar adalah:


Pertama, lailatul qadar adalah malam yang penuh keberkahan (bertambahnya kebaikan). Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ , فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad Dukhan: 3-4). Malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam lailatul qadar sebagaimana ditafsirkan pada surat Al Qadar. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadar: 1)
Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ , تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ , سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْر

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar: 3-5). Sebagaimana kata Abu Hurairah, malaikat akan turun pada malam lailatul qadar dengan jumlah tak terhingga.[2] Malaikat akan turun membawa kebaikan dan keberkahan sampai terbitnya waktu fajar.[3]


Kedua, lailatul qadar lebih baik dari 1000 bulan. An Nakho’i mengatakan, “Amalan di lailatul qadar lebih baik dari amalan di 1000 bulan.”[4] Mujahid dan Qotadah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lebih baik dari seribu bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih baik dari shalat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar.[5]


Ketiga, menghidupkan malam lailatul qadar dengan shalat akan mendapatkan pengampunan dosa. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”[6]


Bilakah Lailatul Qadar Terjadi?
Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.”[7]
Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil itu lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.”[8]
Lalu kapan tanggal pasti lailatul qadar terjadi? Ibnu Hajar Al Asqolani telah menyebutkan empat puluhan pendapat ulama dalam masalah ini. Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan oleh beliau adalah lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun[9]. Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima, itu semua tergantung kehendak dan hikmah Allah Ta’ala. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى

Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.” [10]
Para ulama mengatakan bahwa hikmah Allah menyembunyikan pengetahuan tanggal pasti terjadinya lailatul qadar adalah agar orang bersemangat untuk mencarinya. Hal ini berbeda jika lailatul qadar sudah ditentukan tanggal pastinya, justru nanti malah orang-orang akan bermalas-malasan.[11]


Do’a di Malam Lailatul Qadar

Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada lailatul qadar, lebih-lebih do’a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita –Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah. Beliau radhiyallahu ‘anha berkata,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ « قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى »

Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab,”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).”[12]


Tanda Malam Lailatul Qadar

Pertama, udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء

Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan.”[13]


Kedua, malaikat turun dengan membawa ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain.


Ketiga, manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.


Keempat, matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tidak ada sinar. Dari Abi bin Ka’ab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Shubuh hari dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik.”[14] [15]


Bagaimana Seorang Muslim Menghidupkan Malam Lailatul Qadar?

Lailatul qadar adalah malam yang penuh berkah. Barangsiapa yang terluput dari lailatul qadar, maka dia telah terluput dari seluruh kebaikan. Sungguh merugi seseorang yang luput dari malam tersebut. Seharusnya setiap muslim mengecamkan baik-baik sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فِيهِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Di bulan Ramadhan ini terdapat lailatul qadar yang lebih baik dari 1000 bulan. Barangsiapa diharamkan dari memperoleh kebaikan di dalamnya, maka dia akan luput dari seluruh kebaikan.”[16]
Oleh karena itu, sudah sepantasnya seorang muslim lebih giat beribadah ketika itu dengan dasar iman dan tamak akan pahala melimpah di sisi Allah. Seharusnya dia dapat mencontoh Nabinya yang giat ibadah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. ‘Aisyah menceritakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.”[17]
Seharusnya setiap muslim dapat memperbanyak ibadahnya ketika itu, menjauhi istri-istrinya dari berjima’ dan membangunkan keluarga untuk melakukan ketaatan pada malam tersebut. ‘Aisyah mengatakan,

كَانَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’[18]), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.”[19]

Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Aku sangat senang jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk bertahajud di malam hari dan giat ibadah pada malam-malam tersebut.” Sufyan pun mengajak keluarga dan anak-anaknya untuk melaksanakan shalat jika mereka mampu.[20]
Adapun yang dimaksudkan dengan menghidupkan malam lailatul qadar adalah menghidupkan mayoritas malam dengan ibadah dan bukan seluruh malam, Pendapat ini dipilih oleh sebagian ulama Syafi’iyah.[21] Menghidupkan malam lailatul qadar pun bukan hanya dengan shalat, bisa pula dengan dzikir dan tilawah Al Qur’an.[22] Namun amalan shalat lebih utama dari amalan lainnya di malam lailatul qadar berdasarkan hadits, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”[23]


Bagaimana Wanita Haidh Menghidupkan Malam Lailatul Qadar?

Juwaibir pernah mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh Dhohak, “Bagaimana pendapatmu dengan wanita nifas, haidh, musafir dan orang yang tidur (namun hatinya dalam keadaan berdzikir), apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari lailatul qadar?” Adh Dhohak pun menjawab, “Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian. Siapa saja yang Allah terima amalannya, dia akan mendapatkan bagian malam tersebut.”[24]

Dari riwayat ini menunjukkan bahwa wanita haidh, nifas dan musafir tetap bisa mendapatkan bagian lailatul qadar. Namun karena wanita haidh dan nifas tidak boleh melaksanakan shalat ketika kondisi seperti itu, maka dia boleh melakukan amalan ketaatan lainnya. Yang dapat wanita haidh lakukan ketika itu adalah,
1. Membaca Al Qur’an tanpa menyentuh mushaf.[25]
2. Berdzikir dengan memperbanyak bacaan tasbih (subhanallah), tahlil (laa ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah) dan dzikir lainnya.
3. Memperbanyak istighfar.
4. Memperbanyak do’a.[26]


Beri’tikaf Demi Menanti Lailatul Qadar

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau. Inilah penuturan ‘Aisyah.[27] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dengan tujuan untuk mendapatkan malam lailatul qadar, untuk menghilangkan dari segala kesibukan dunia, sehingga mudah bermunajat dengan Rabbnya, banyak berdo’a dan banyak berdzikir ketika itu.[28]

Beberapa hal yang bisa diperhatikan ketika ingin beri’tikaf.


Pertama, i’tikaf harus dilakukan di masjid dan boleh di masjid mana saja.
I’tikaf disyari’atkan dilaksanakan di masjid berdasarkan firman Allah Ta’ala,

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam masjid”(QS. Al Baqarah: 187). Demikian juga dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu juga istri-istri beliau melakukannya di masjid, dan tidak pernah di rumah sama sekali.

Menurut mayoritas ulama, i’tikaf disyari’atkan di semua masjid karena keumuman firman Allah di atas (yang artinya) “Sedang kamu beri'tikaf dalam masjid”. Adapun hadits marfu’ dari Hudzaifah yang mengatakan, ”Tidak ada i’tikaf kecuali pada tiga masjid yaitu masjidil harom, masjid nabawi dan masjidil aqsho”. Perlu diketahui, hadits ini masih diperselisihkan statusnya, apakah marfu’ (sabda Nabi) atau mauquf (perkataan sahabat).


Kedua, wanita juga boleh beri’tikaf sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan istri beliau untuk beri’tikaf. Namun wanita boleh beri’tikaf di sini harus memenuhi 2 syarat: (1) Diizinkan oleh suami dan (2) Tidak menimbulkan fitnah (masalah bagi laki-laki).


Ketiga, yang membatalkan i’tikaf adalah: (1) Keluar masjid tanpa alasan syar’i atau tanpa ada kebutuhan yang mubah yang mendesak (misalnya untuk mencari makan, mandi junub , yang hanya bisa dilakukan di luar masjid), (2) Jima’ (bersetubuh) dengan istri berdasarkan Surat Al Baqarah : 187 di atas.


Keempat, hal-hal yang dibolehkan ketika beri’tikaf di antaranya:

(1) Keluar masjid disebabkan ada hajat seperti keluar untuk makan, minum, dan hajat lain yang tidak bisa dilakukan di dalam masjid.
(2) Melakukan hal-hal mubah seperti bercakap-cakap dengan orang lain.
(3) Istri mengunjungi suami yang beri’tikaf dan berdua-duaan dengannya.
(4) Mandi dan berwudhu di masjid.
(5) Membawa kasur untuk tidur di masjid.


Kelima, jika ingin beri’tikaf selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka seorang yang beri’tikaf mulai memasuki masjid setelah shalat Shubuh pada hari ke-21 (sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan keluar setelah shalat shubuh pada hari ‘Idul Fithri menuju lapangan.


Keenam, hendaknya ketika beri’tikaf, sibukkanlah diri dengan melakukan ketaatan seperti berdo’a, dzikir, bershalawat pada Nabi, mengkaji Al Qur’an dan mengkaji hadits. Dan dimakruhkan menyibukkan diri dengan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat. [29]

Semoga Allah memudahkan kita menghidupkan hari-hari terakhir di bulan Ramadhan dengan amalan ketaatan.


Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://rumaysho.com


Footnote:


[1] Periksa Zaadul Maysir, 6/177, Ibnul Jauziy, Mawqi’ At Tafaasir, Asy Syamilah

[2] Periksa Zaadul Maysir, 6/179

[3] -idem-, 6/180

[4] Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 341, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islamiy, cetakan pertama, 1428 H.

[5] Periksa Zaadul Maysir, 6/179

[6] HR. Bukhari no. 1901.

[7] HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169

[8] HR. Bukhari no. 2017

[9] Lihat Fathul Baari, 6/306, Mawqi’ Al Islam Asy Syamilah.

[10] HR. Bukhari no. 2021

[11] -idem-

[12] HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Adapun tambahan kata “kariim” setelah “Allahumma innaka ‘afuwwun ...” tidak terdapat satu dalam manuskrip pun. Lihat Tarooju’at no. 25.

[13] HR. Ath Thoyalisi. Haytsami mengatakan periwayatnya adalah tsiqoh /terpercaya

[14] HR. Muslim no. 1174

[15] Lihat pembahasan di Shahih Fiqih Sunnah, 2/149-150, Abu Malik, Maktabah At Taufiqiyyah.

[16] HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[17] HR. Muslim no. 1175

[18] Lihat tafsiran ini di Latho-if Al Ma’arif, hal. 332

[19] HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174

[20] Latho-if Al Ma’arif, hal. 331

[21] Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 329

[22] Lihat ‘Aunul Ma’bud, 3/313, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah[23] HR. Bukhari no. 1901.

[24] Latho-if Al Ma’arif, hal. 331

[25] Dalam at Tamhid (17/397, Syamilah), Ibnu Abdil Barr berkata, “Para pakar fiqh dari berbagai kota baik Madinah, Iraq dan Syam tidak berselisih pendapat bahwa mushaf tidaklah boleh disentuh melainkan oleh orang yang suci dalam artian berwudhu. Inilah pendapat Imam Malik, Syafii, Abu Hanifah, Sufyan ats Tsauri, al Auzai, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahuyah, Abu Tsaur dan Abu Ubaid. Merekalah para pakar fiqh dan hadits di masanya.

[26] Lihat pembahasan di “Al Islam Su-al wa Jawab” pada link http://www.islam-qa.com/ar/ref/26753

[27] HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim 1172.

[28] Latho-if Al Ma’arif, hal. 338

[29] Pembahasan i`tikaf ini disarikan dari Shahih Fiqih Sunnah, 2/150-158


Soalan :

Adakah dengan mengambil sedikit contoh darah memberi kesan ke atas puasa?


Jawapan :

Kadar darah yang diambil berdasarkan jumlah yang disebutkan di atas tidak menjejaskan puasa kerana ia sedikit dan tidak menyebabkan tubuh seseorang menjadi lemah. Syeikh Ibn Baz r.h telah ditanya tentang seseorang yang diambil darahnya dalam bulan Ramadhan untuk diuji:

Beliau menjawab: “Ujian dalam bentuk ini tidak memberi kesan kepada puasa. Ia dimaafkan kerana pengambilan itu merupakan perkara yang penting dan bukan merupakan perkara yang boleh membatalkan puasa mengikut syariat”. (Majmu` Fatawa, oleh Ibn Baz, jilid 15, ms: 274).

Syeikh Ibn `Uthaimin r.h telah ditanya tentang seseorang yang menjalani ujian darah ketika berpuasa.

Beliau menjawab: “ Puasanya tidak terbatal kerana jumlahnya kecil dan ia tidak menjejaskan tubuh seperti yang terjadi akibat berbekam”. (Fatawa Arkan al-Islam, ms: 478).

Mengikut kaedah syarak, puasa kekal sah selagi ia tidak dijejaskan oleh perkara-perkara yang dibuktikan oleh syarak menjadi penyebab kepada terbatalnya puasa. Dalam kes ini, tidak ada bukti bahawa puasa itu terbatal kerana jumlah yang diambilnya hanya sedikit.


Rujukan :

Soal jawab puasa: berdasarkan Majlis Fatwa Tetap Arab Saudi/ Muhammad b. Soleh al-Munajjid, Abdul Aziz b. Abdullah b. Baz, Muhammad b. Soleh al-Uthaimin; selenggaraan: Sakinah Ariff Johor. Karya Bestari Sdn. Bhd.

Soalan :

Adakah air liur membatalkan puasa Ramadhan? Saya menghasilkan air liur yang banyak semasa membaca Al-Quran dan semasa berada di masjid.

Jawapan :

Menelan ait liur sendiri tidak membatalkan puasa seseorang walaupun dalam kadar yang banyak, sama ada di dalam masjid atau di mana-mana. Tetapi, kahak tidak boleh ditelan dan hendaklah diludah ke atas tisu atau sebarang bekas jika ketika itu berada di dalam masjid. (Fatawa al-Lajnah al-Da’imah li al-Buhuth wa al-Ifta`, jilid:1, ms: 270).

Jika ditanya, bolehkah menelan kahak dengan sengaja? Jawapannya, haram menelannya dengan sengaja sama ada ketika berpuasa atau tidak kerana ia dianggap kotor dan mungkin mengandungi kuman yang dihasilkan oleh tubuh. Tetapi, jika seseorang menelannya dengan sengaja ketika berpuasa, puasanya masih sah kerana kahak bukan berpunca daripada darah dan tidak dianggap sebagai makanan atau minuman. (Fatawa Syeikh Muhammad bin `Uthaimin. Rujuk: Al-Syarh al-Mumti`, jilid:6, ms: 428)


Rujukan :

Soal jawab puasa: berdasarkan Majlis Fatwa Tetap Arab Saudi/ Muhammad b. Soleh al-Munajjid, Abdul Aziz b. Abdullah b. Baz, Muhammad b. Soleh al-Uthaimin; selenggaraan: Sakinah Ariff Johor. Karya Bestari Sdn. Bhd.

Soalan yang sering dipertanyakan berkaitan solat tarawikh

Soalan :

Assalamualikum. Saya ingin bertanya bolehkah seorang imam melihat kitab suci Al-Quran dari melihat ke tempat sujud. In kerana kebanyakkan imam khususnya pada bulan Ramadhan seiring melihat teks Al-Quran apabila menunaikan solat Tarawih. Adakah terdapatnya hadis dari nabi berkaitan hal ini.

Jawapan :

Para ulama berbeza pendapat dalam masalah ini. Ulama mazhab al-Syafie berpendapat tidak mengapa seseorang yang sedang solat membaca dari mashaf dengan syarat dia tidak melakukan pergerakan yang boleh membatalkan solat. Jika dia melakukan tiga kali pergerakan (besar) yang berturut-turut, maka batal solatnya. Syeikh 'Atiyah Soqr menyebut :

"Kadang-kadang sesuatu yang dapat membantu untuk tidak banyak bergerak dengan meletakkan mashaf yang memiliki tulisan yang besar di atas sesuatu yang tinggi di hadapan orang yang solat, untuk dia boleh membaca daripadanya satu atau dua muka. Dan dia tidak perlu banyak menyelak muka surat, sedikit pergerakan untuk menyelak muka surat tidak membatalkan solat. al-Nawawi berkata : Jika sekali-sekala menyelak muka surat mashaf ketika solat tidak mengapa."

Ulama mazhab Malik pula berpendapat harus di dalam solat sunat dan makruh di dalam solat wajib. Ini juga pendapat imam Ahmad dalam salah satu riwayat daripadanya.

Ulama mazhab Hanafi pula melarang melakukannya samaada di dalam solat sunat ataupun fardhu.

Al-Qadhi Abu Ya'la pula memakruhkan di dalam solat fardhu, dan tidak mengapa di dalam solat sunat jika dia tidak menghafalnya. Jika dia menghafal, maka perbuatan itu juga adalah makruh.

Namun terdapat hadith yang diriwayatkan oleh al-Bukhari di dalam kitab Sahihnya demikian juga oleh Malik bahawasanya Zakwan, iaitu hamba Sayyidah 'A-isyah pernah menjadi imam kepadanya dalam bulan Ramadhan dan Zakwan membaca dengan melihat kepada mashaf.

Ibn Hajar di dalam kitabnya Fath al-Bari menyebut

"Dijadikan dalil dengannya akan keharusan seorang yang sedang solat membaca dari mashaf. Namun sebahagian melarangnya kerana perbuatan tersebut menyebabkan pergerakan yang banyak."

al-Syeikh Abdul Aziz Abdullah bin Baz menyebut :

"Tidak mengapa bacaaan dengan melihat mashaf ketika qiyam Ramadhan, kerana perbuatan tersebut bertujuan mendengarkan para makmum keseluruhan al-Quran, kerana dalil-dalil syara' dari al-Kitab dan al-SUnnah telah menunjukkan disyariatkan membaca la-Quran di dalam solat, dan ianya umum termasuk membaca dari mashaf dan dari hafalan. Telah thabit juga dari 'A-isyah yang menyuruh hambanya Zakwan mengimamkannya qiyam Ramadhan, dan Zakwan membaca dengan melihat mushaf seperti yang disebut oleh al-Bukhari di dalam kitab sahihnya secara ta'lik."

Insyaallah pendapat yang benar ialah pendapat yang membenarkan seseorang yang sedang solat termasuk imam melihat mushaf berdasarkan perbuatan sahabat dan 'A-isyah yang pernah melakukannya.

Wallahu a'lam. Abdul Kadir


Rujukan :

http://www.islam-qa.com/special/index.php?ref=9061&ln=ara&subsite=14

http://islamonline.net/servlet/Satellite?pagename=IslamOnline-

Arabic-Ask_Scholar/FatwaA/FatwaA&cid=1122528601388

http://www.islamonline.net/servlet/Satellite?cid=1122528604230&pagename

=IslamOnline-Arabic-Ask_Scholar%2FFatwaA%2FFatwaAAskTheScholar


Dipetik dari laman web : http://www.al-qayyim.net

Assalamu`alaikum

Selamat menyambut bulan Ramadhan kepada semua sahabat-sahabat yang pulang ke halaman rumah masing-masing. Ramadhan merupakan satu bulan yang teramat mulia penuh dengan kurniaan rahmat Allah.



Menurut satu hadith yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, telah bersabda Rasulullah S.A.W yang bermaksud “Apabila telah tibanya Ramadhan, dibuka pintu-pintu syurga dan ditutup segala pintu neraka dan diikat segala syaitan”. [Hadith dikeluarkan oleh Imam Bukhari, Muslim, Nasai'e, Ahmad dan Baihaqi]

Maka amat rugi kalau mereka yang tidak mengejar segala rahmat yang diberikan pada bulan ini. Gunakanlah masa berpuasa dengan kegiatan yang berfaedah dan jangan banyakkan tidur di siang hari. Namun banyakkanlah doa, dan doakanlah juga untuk kesejahteraan umat islam. Sesungguhnya doa di bulan Ramadhan mudah dimakbulkan. Insya`Allah...


Selamat bercuti…

Rasulullah s.a.w amat menganjurkan umatnya agar bersahur kerana terdapat keberkatan pada waktu itu. Sabda baginda s.a.w:

"Bersahurlah kamu semua kerana sesungguhnya pada waktu makan sahur itu terdapat keberkatan." [Hadis riwayat al-Bukhari no: 1923]

Maksud kerberkatan di sini ialah wujudnya ganjaran serta pahala yang besar di dalam ibadah sahur tersebut. Menurut al-Hafiz Ibn Hajar al-'Asqalani r.h: "Keberkatan sahur itu diperolehi melalui beberapa segi, iaitu mengikuti sunnah, menyelisihi ahli kitab, menambah kekuatan dan semangat untuk beribadah, menghindari tabiat buruk yang timbul akibat lapar, menjadi sebab untuk bersedekah kepada orang yang meminta saat itu, menjadi sebab untuk berzikir dan berdoa pada waktu yang mustajab dan memberi kesempatan untuk berniat bagi mereka yang belum sempat berniat puasa sebelum tidur." [Rujuk Fathul Baari, Jil. 11, ms. 120]

Antara hikmah disyariatkan bersahur adalah untuk membezakan antara ibadah puasa orang Islam dengan ibadah puasa orang Yahudi dan Kristian (ahli kitab). Sabda Rasulullah s.a.w:

"Pemisah (yang membezakan) antara puasa kita dan puasaahli kitab ialah makan sahur." [Hadis riwayat al-Tirmizi. no: 643]

Ibadah sahur adalah ibadah yang begitu agung sehinggakan Allah melimpahkan rahmat dan malaikat-Nya memohon keampunan bagi orang-orang yang makan sahur.Oleh itu, Nabi s.a.w amat menitik beratkan umatnya untuk bersahur walaupun dengan hanya meminum seteguk air. Sabda baginda s.a.w :

"Makan sahur ada keberkatan. Oleh itu, janganlah kamu meninggalkannya meskipun salah seorang antara kamu hanya meminum seteguk air. Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya berselawat ke atas orang-orang yang makan sahur." [Hadis riwayat Ahmad. no: 10664]

Sebenarnya, kita dibenarkan bersahur sehingga fajar terbit, iaitu sehingga azan solat Subuh dilaungkan. Sabda Rasulullah s.a.w:

"Kamu semua boleh makan dan minum sehingga Ibn Ummi Maktum melaungkan azan kerana sesungguhnya dia tidak akan melaungkan azan (melainkan) hingga fajar sodiq benar-benar telah terbit." [Hadis riwayat al-Bukhari, no: 1919]

Hadis ini secara tidak langsung membantah pendapat sesetengah pihak yang tidak membenarkan makan dan minum apabila telah masuk waktu imsak. Apatah lagi Allah sendiri telah menegaskan bahawa dibenarkan makan dan minum sehingga terbit fajar, iaitu apabila azan Subuh dilaungkan. Firman Allah S.W.T:

"Makanlah serta minumlah sehingga nyata kepada kamu benang putih (cahaya siang) dari benang hitam kegelapan malam), iaitu waktu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sehingga waktu malam (maghrib)." [Surah al-Baqarah: 187]

Adalah disunnahkan juga untuk dilewatkan sahur sehingga hampir terbit fajar. Sahal bin Sa’ad r.a berkata:

"Aku makan sahur bersama keluargaku, kemudian akupun tergesa-gesa untuk mendapatkan sujud bersama Rasulullah s.a.w ." [Hadis riwayat al-Bukhari, no: 1920]

Qadi Iyadh r.h berkata: "Tujuan Sahal terburu-buru makan sahur adalah kerana waktunya sangat dekat dengan terbitnya fajar." [Dinukil dari Fathul Baari, jil. 11, ms. 114]

Waktu yang terbaik untuk makan sahur adalah lebih kurang sama dengan kadar waktu seseorang membaca 50 ayat al-Quran iaitu kira-kira 10 hingga 20 minit sebelum azan solat subuh dikumandangkan. Menurut Anas r.a, Zaid bin Thabit r.a berkata:

"Kami makan sahur bersama Nabi s.a.w , kemudian baginda berdiri untuk solat. Aku berkata: Berapa lama antara azan dan sahur?” Beliau menjawab: “Kira-kira (membaca) lima puluh ayat." [Hadis riwayat al-Bukhari no: 1921]

Hadis ini telah digunakan oleh mereka yang berpendapat bahawa waktu imsak itu adalah sepuluh minit sebelum terbit fajar. Apabila masuk waktu imsak maka seseorang tidak lagi diperbolehkan makan dan minum. Namun tafsiran yang benar terhadap hadis tersebut adalah Rasulullah s.a.w langsung mendirikan solat subuh setelah baginda makan sahur. Kadar membaca 50 ayat al-Quran antara azan subuh dan sahur bukan waktu imsak seperti yang disangka oleh mereka, tetapi ia adalah kadar waktu Nabi s.a.w memulakan dan mengakhirkan sahur baginda.

Antara hikmah mengakhirkan sahur adalah:

1. Sekiranya seseorang bangun awal untuk sahur, tentu sekali setelah selesai bersahur dia akan kembali ke tempat tidur. Hal ini memungkinkan seseorang itu meninggalkan solat Subuh.

2. Mengakhirkan sahur juga boleh menambahkan kekuatan bagi orang yang berpuasa. Sekiranya seseorang bersahur terlalu awal maka ia akan menyebabkan seseorang itu cepat merasa lapar, dahaga dan keletihan pada siang harinya.


Artikel ini di petik dari laman blog: http://akob73.blogspot.com

1. Makan dengan tidak berlebih-lebihan

Allah berfirman: “Dan makanlah dan minumlah dan jangan kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukaї orang yang berlebih-lebihan”. [Al-A`raf: 31]

2. Segera berbuka apabila masuk waktu Maghrib
Rasulullah bersabda: “Masihlah manusia itu dalam kebaikan selama mana mereka menyegerakan berbuka”. [Al-Bukhari/1957], [Muslim/ 1098].

3. Berbuka dengan rutab, tamar atau air
(Rutab: kurma masak. Tamar: kurma kering). Anas bin Malik berkata: Rasulullah berbuka sebelum dia bersalat dengan rutab. Jika tiada rutab, maka tamar. Jika tiada tamar, dia meneguk beberapa tegukan air. [At-Tirmizi/ 696, sahih]

4. Makan dahulu sebelum solat Maghrib
Rasulullah bersabda: “Apabila diletakkan makan malam seseorang kamu dan didirikan solat, maka mulakanlah dengan makan malam dan janganlah dia tergesa-gesa sehingga dia selesai daripadanya”. [Al- Bukhari/ 674]

5. Berdoa ketika berbuka
Sabda Rasulullah: “Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa itu, doa yang tidak ditolak ketika dia berbuka.” [Ibn Majah di dalam Sunannya:1753. Sanadnya Hasan]

6. Mendoakan orang yang menjamu kita berbuka
Anas bin Malik RA meriwayatkan: “Rasulullah pernah datang ke (rumah) Sa’ad bin ‘Ubadah. Dia menghidangkan roti dan nyak. Baginda pun makan dan bersabda: “Telah berbuka puasa di sisi kamu mereka yang berpuasa, telah makan makanan kamu orang yang baik, dan telah berselawat ke atas kamu para malaikat.” [Sunan Abu Daud:3854, ad-Diya al-Maqdisi menyatakan ia sahih di dalam al-Ahadith al-Mukhtarah 5/518]

Oleh
Abd. Rasyid Bin Idris
(Institut Al-Qayyim, Pulau Pinang)


Takrif

1. Bahasa : Menahan diri.
Firman Allah:
فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا
Terjemahan: "Maka makanlah dan minumlah serta bertenanglah hati dari segala yang merunsingkan, kemudian kalau engkau melihat seseorang manusia, maka katakanlah: Sesungguhnya aku bernazar untuk diam membisu kerana (Allah) Ar-Rahman; (setelah aku menyatakan yang demikian) maka aku tidak akan berkata-kata kepada sesiapapun dari kalangan manusia pada hari ini".
(Maryam: 26)

2. Istilah syarak: Menahan diri daripada perkara-perkara yang membatalkannya (daripada syahwat perut dan faraj), pada waktu siang (dari subuh hingga maghrib), dengan niatnya.[1]

Tarikh Pensyariatan

Bulan Syaaban tahun kedua hijrah. Oleh itu Rasulullah S.A.W telah sempat berpuasa sebanyak 9 kali.[2]

Kepentingan, Kelebihan dan Hikmah

1. Rukun Islam yang keempat.[3]

2. Perisai daripada maksiat .
Sabda Rasulullah S.A.W dalam sebuah hadith qudsi:
وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ
Terjemahan: « Dan puasa itu perisai ».[4]

3. Merupakan tanda ketaatan mutlak kepada Allah S.W.T kerana kesangupan meninggalkan kelazatan dunia.

4. Dapat menghias diri dengan sifat sabar :
i. dalam mentaati Allah
ii. daripada melakukan maksiat
iii. daripada keperitan dan keletihan disebabkan lapar dan dahaga

[1] Lihat: Radd Al-Muhtar (7/316), mauqi‘ ya‘sub dan Fatawi Al-Azhar (1/116), http:www.islamic-council.com
[2] Rujuk: Al-Bassam, Abdullah Bin Abd. Rahman. Tawdih Al-Ahkam min Bulugh Al-Maram. (3/439), Mekah:Maktabah Al-Asadi, ctk.5 (2003M)
[3] Hadith Muttafaqun ‘alaih
[4] Hadith Muttafaqun ‘alaih


Perkara-Perkara Yang Membatalkan Puasa

1. Perkara yang disepakati:


1.1- Riddah (Keluar daripada Islam)
Firman Allah S.W.T:
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ
Terjemahan: “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu (wahai Muhammad) dan kepada nabi-nabi yang terdahulu daripadamu: "Demi sesungguhnya! Jika engkau (dan pengikut-pengikutmu) mempersekutukan (sesuatu yang lain dengan Allah) tentulah akan gugur amalmu, dan Engkau akan tetap menjadi dari orang-orang yang rugi”.
(Al-Zumar:65)

1.2- Makan dan minum dengan sengaja
Firman Allah taala:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ
Terjemahan:…“dan makanlah serta minumlah sehingga nyata kepada kamu benang putih (cahaya siang) dari benang hitam kegelapan malam), iaitu waktu fajar.
(Al-Baqarah:187)

1.3- Persetubuhan
Firman Allah:
أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ
Terjemahan: “Dihalalkan bagi kamu, pada malam hari puasa, bercampur (bersetubuh) dengan isteri-isteri kamu. Mereka itu adalah sebagai pakaian bagi kamu dan kamu pula sebagai pakaian bagi mereka”.
(Al-Baqarah:187)


Hadith Abu Hurairah:
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ هَلَكْتُ قَالَ وَمَا شَأْنُكَ قَالَ وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي فِي رَمَضَانَ قَالَ هَلْ تَجِدُ مَا تُعْتِقُ رَقَبَةً قَالَ لَا قَالَ فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَ لَا قَالَ فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تُطْعِمَ سِتِّينَ مِسْكِينًا قَالَ لَا أَجِدُ....
Terjemahan: “Datang seorang lelaki kepada nabi S.A.W lalu berkata: aku telah musnah. Baginda bertanya: Apa kena dengan kamu? Jawabnya: Aku telah menyetubuhi isteriku dalam bulan Ramadan. Nabi bersabda: Adakah engkau memiliki hamba untuk dimerdekakan? Jawabnya: Tidak. Nabi bertanya lagi: Adakah engkau mampu berpuasa dua bula berturut-turut? Jawabnya: Tidak. Nabi bertanya lagi: Adakah engkau mampu memberi makan enam puluh orang miskin? Jawabnya: Aku tidak memiliki (apa-apa untuk diberikan)…[1]

1.4- Keluar haidh dan nifas.
Sabda Rasulullah S.A.W tentang wanita haidh:
أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ
Terjemahan: “Bukankah apabila wanita haidh, dia tidak solat dan tidak berpuasa?”[2]



2. Perkara yang diperselisihkan:


2.1- Mengeluarkan air mani dengan sengaja walau apa cara sekalipun
Ini disepakati oleh imam-imam mazhab yang empat. Ibn Al-Munzir dan Ibn Qudamah menyatakan ijmak ulama bahawa perlakuan ini merosakkan puasa.[3] Perbuatan ini mempunyai makna yang sama dengan jimak, ia juga berlawanan dengan sifat puasa seperti yang terdapat dalam sebuah hadith qudsi, Allah menyifatkan tentang orang yang berpuasa :
يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي
Terjemahan: “orang itu (yang berpuasa), meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya demi kerana-Ku”[4]

Bagaimanapun, Ibn Hazm menegaskan bahawa perbuatan ini bukanlah termasuk di dalam perkara yang membatalkan puasa. Ini kerana untuk menyatakan sesuatu itu sebagai pembatal, memerlukan kepada dalil, sedangkan tiada dalil yang jelas samada di dalam Al-Quran mahupun hadith. Jika benar ia membatalkan puasa tentu sahaja akan diberitahu oleh syarak sebagaimana diberitahu tentang perkara-perkara lain. Al-Albani seperti menyokong pandangan Ibn Hazm ini.
Pendapat yang lebih selamat ialah yang pertama, iaitu qaul jumhur.

2.2- Bercumbuan sehingga mengeluarkan air mazi (bukan mani)
Mazhab Abu Hanifah dan Al-Syafi‘e dan satu riwayat daripada Ahmad serta pilihan Syeikh Al-Islam Ibn Taymiyyah ianya tidak membatalkan puasa. Riwayat yang masyhur dari Ahmad, ia membatalkan puasa.
Qaul yang rajih ialah tidak membatalkan.

2.3- Muntah dengan sengaja
Sabda Rasululllah S.A.W:
مَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ وَهُوَ صَائِمٌ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ ، وَإِنْ اسْتَقَاءَ عَمْدًا فَلْيَقْضِ
Terjemahan: “Barangsiapa yang termuntah sedangkan dia sedang berpuasa, dia tidak perlu qada’, dan barangsiapa yang sengaja muntah hendaklah dia qada’ (puasa)”.[5]
Dalam mazhab Al-Thauri, Malik, Al-Syafi‘e, Ahmad, Ishaq dan Ibn Hazm ianya membatalkan puasa manakala yang masyhur dalam mazhab Abu Hanifah dan satu riwayat daripada Ahmad ialah tidak batal.
Perbezaan timbul kerana perbezaan dalam menerima kesahihan hadith tersebut. Golongan ulama yang mendha’ifkan hadith ini ialah: Ahmad, Al-Bukhari, Abu Daud, Al-Khattabi, Al-Baghawi dan lain-lain. Mereka mendakwa bahawa salah seorang perawi hadith ini yang bernama Hisyam telah terkeliru dalam periwayatnnya. Golongan ulama yang mensahihkan atau menghukumnya hasan ialah Ibn Hibban, Al-Hakim, Al-Albani dan lain-lain. Adapun Al-Tirmizi, beliau menggunakan istilah hasan gharib (yang disebut oleh sebilangan pengkaji hadith sebagai lafaz mendha’ifkan)[6]

2.4- Berbekam
Sabda Rasulullah S.A.W:
أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُومُ
Terjemahan: “Berbukalah (Terbatallah) orang yang membekam dan dibekam”[7]

Ibn ‘Abbas menceritakan:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ احْتَجَمَ وَهُوَ مُحْرِمٌ وَاحْتَجَمَ وَهُوَ صَائِمٌ
Terjemahan: “Bahawasanya nabi S.A.W telah berbekam ketika baginda dalam ihram dan baginda telah berbekam sedangkan baginda berpuasa”[8]

Jumhur ulama berpendapat bahawa hadith kedua memansukhkan hadith yang pertama. Justeru berbekam tidak membatalkan puasa. Tetapi sebilangan ulama seperti Ahmad, Ibn Al-Qayyim dan lainnya menyatakan bahawa lafaz (sedangkan baginda berpuasa) adalah tidak sahih. Oleh itu mazhab Hanbali berpegang bahawa berbekam membatalkan puasa. Ini mengakibatkan juga batalnya puasa disebabkan perbuatan lain yang berbentuk mengeluarkan darah dari badan.[9]

Selain daripada perkara-perkara ini tidak thabit secara nas perlakuan-perlakuan lain yang membatalkan puasa. Ibn Hazm telah menyenaraikan beberapa perkara yang tidak membatalkan puasa antaranya : berbekam, mimpi yang keluar air mani, termuntah, memasukkan ubat ke dalam telinga, hidung dan dubur serta lain-lain lagi. Beliau menyatakan : « Sesungguhnya Allah S.W.T melarang kita ketika berpuasa daripada makan, minum, jimak, muntah dengan sengaja dan melakukan maksiat. Kita tidak pula mengetahui bahawa makan dan minum melalui dubur, saluran kencing, telinga, mata, hidung, orang yang luka di perut atau kepala ».[10] Bagaimanapun telah thabit melalui perubatan moden, makanan boleh diberikan melalui hidung dan suntikan glukos melalui saluran darah. Ibn Taymiyyah pula memberi komentar berhubung memakai celak dan memasukkan ubat ke dubur, katanya: «…semua perkara tersebut tidak membatalkan puasa. Sesungguhnya puasa sebahagian daripada agama yang menuntut umat Islam mengetahuinya sama ada individu ataupun jamaah. Sekiranya perkara-perkara tersebut terdiri daripada perkara-perkara yang dilarang oleh Allah dan rasul-Nya dalam puasa, serta mengakibatkan terbatalnya puasa, sudah tentulah menjadi tanggungjawab baginda menyampaikannya.…maka apabila tidak direkodkan daripada ahli ilmu daripada nabi S.A.W berhubung perkara ini samada melalui hadith sahih, dha’if, musnad dan mursal, maka ketahuilah bahawa baginda tidak pernah menyebut sesuatupun daripadanya ».[11]

Oleh itu kaedah penting dalam ibadat ialah :

  • Sebarang dakwaan tentang batalnya ibadat memerlukan dalil yang kukuh sebagaimana ia memerlukan dalil yang kukuh mensyariatkannya.
  • Tidak diterima sebarang syarat, rukun atau sesuatu yang sunat atau makruh melainkan dengan dalil.


Amalan dan Sangkaan Masyarakat

1. Lafaz niat
Para fuqaha’ memang telah membincangkan tentang tajuk niat di dalam kitab-kitab mereka. Persoalan boleh atau tidak berniat di awal Ramadan atau memerlukan tajdid niat pada setiap malam. Ini berdasarkan sabdaan rasul S.A.W:
مَنْ لَمْ يُجْمِعْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ
Terjemahan: “Barangsiapa tidak berniat puasa di malam hari sebelum subuh, maka tiada puasa baginya”[12]

Bagaimanapun tiada di kalangan ulama mutaqaddimin yang membicarakan tentang lafaz niat puasa sebagaiman yang sering ditekankan oleh masyarakat dan dalam silibus Pendidikan Islam di sekolah.
Niat ialah: menuruti ilmu; oleh itu barangsiapa yang mengetahui apa yang dia mahu lakukan, semestinya dia telah berniatkannya.[13] Adakah melafazkan niat suatu yang disunatkan atau dimakruhkan? Terdapat beberapa pendapat berhubung hal ini. Dipilih oleh penulis kitab al-Hidayah: pendapat pertama (disunatkan) bagi orang yang tidak dapat menghimpunkan niat dan azamnya (iaitu orang yang sukar mempastikan apa yang dia sendiri hendak lakukan). Dan berkata pengarang al-Fath: Tidak dinukilkan daripada Nabi S.A.W dan para sahabat baginda bahawa mereka melafazkannya, tiada dalam hadis sahih dan tidak juga dalam hadis dhaif. Ibn Amir Hajj menambah: dan tidak juga daripada (amalan) imam-imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, al-Syafi'e dan Ahmad).[14] Berdasarkan perkataan Ibn 'Abidin al-Hanafi ini, boleh dikatakan bahawa yang disunatkan melafazkan niatnya hanyalah orang-orang yang kurang kemampuan akalnya. Ini jelas kerana orang yang tidak mampu memastikan apa yang hendak dilakukan bukanlah orang cerdik. Dia mungkin seorang yang sangat pelupa, tidak cukup akal atau seumpamanya.

2. Waktu Imsak
Amalan menghentikan sahur lebih awal daripada waktu solat subuh supaya dapat bersegera menunaikannya secara berjemaah adalah suatu yang baik. Tetapi menyangka bahawa waktu sahur tamat pada waktu yang dinamakan imsak adalah salah dan bercanggah dengan dalil-dalil Al-Quran dan hadith.
i- Firman Allah taala:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ
Terjemahan:…“dan makanlah serta minumlah sehingga nyata kepada kamu benang putih (cahaya siang) dari benang hitam kegelapan malam), iaitu waktu fajar.
(Al-Baqarah:187)

ii- Sabda Rasul S.A.W :

إِنَّ بِلَالًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُنَادِيَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ
Terjemahan : « Sesungguhnya Bilal azan (yang pertama) pada waktu malam, maka makanlah dan minumlah sehingga Ibn Umm Maktum azan ».[15]
Bahkan masih dibolehkan untuk menghabiskan saki baki makanan dan minuman ketika azan sudah dilaungkan. Ini berdasarkan sabda Rasulullah S.A.W :
إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمْ النِّدَاءَ وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلَا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ
Terjemahan : « Apabila seorang dari kamu mendengar azan, sedangkan bekas (makanan atau minuman) berada di tangannya, maka janganlah dia meletakkannya sehinggalah dia memenuhkan hajatnya daripadanya (makanan atau minuman) ».[16]

3. Fadhilat Tarawih Beberapa waktu yang lalu sering dihebahkan tentang kelebihan solat tarawih bagi setiap malam Ramadan. Ramailah juga penceramah yang ‘cari makan’ dengan menghuraikan risalah tersebut. Apabila diungkit bahawa perkara tersebut adalah hadith palsu, ramai yang melenting. Tetapi akhirnya diakui oleh pihak berkuasa agama di beberapa negeri bahawa penyebaran perkara tersebut bercanggah dengan agama.


[1] Hadith riwayat Al-Bukhari no. 4949, Sahih Al-Bukhari (20/424), http://www.al-islam.com/
[2] Hadith riwayat Al-Bukhari no. 293, Sahih Al-Bukhari (2/3), http://www.al-islam.com/
[3] Al-Bassam, opt.cit (3/486)
[4] Hadith riwayat Al-Bukhari no. 1761, Sahih Al-Bukhari (6/457), http://www.al-islam.com/
[5] Hadith riwayat Al-Tirmizi no. 653, Sunan Al-Tirmizi (3/162), http://www.al-islam.com/
[6] Rujuk: Al-Asqalani. Nasb Al-Rayah (4/410), http://www.al-islam.com/, Al-Bassam, opt.cit (3/500), Al-Albani, Sahih wa Dha’if Sunan Al-Tirmizi (2/220), Iskandariyyah:Markaz Nur Al-Islam.
[7] Hadith riwayat Al-Bukhari no. 1802, Sahih Al-Bukhari (7/27)
[8] Hadith riwayat Al-Bukhari no. 1802, Sahih Al-Bukhari (7/28)
[9] Al-Bassam, opt.cit (3/489-491)
[10] Ibn Hazm Al-Andalusi. Al-Muhalla (6/214)
[11] Ibn Taymiyyah. Majmu’ Fatawi (25/234)
[12] Hadith sahih riwayat Abu Daud no. 2098, Sunan Abi Daud (6/445), http://www.al-islam.com/
[13] Ibn Taimiyyah. Kutub wa Rasa'il wa Fatawi Ibn Taimiyyah Fi al-Fiqh, (22/219-220)
[14] Ibn 'Abidin. Hasyiyah Ibn 'Abidin. Beirut: Dar al-Fikr, thn. 1387H, (1/108)
[15] Hadith riwayat Al-Bukhari no. 582, Sahih Al-Bukhari (2/487)
[16] Hadith sahih riwayat Abu Daud no. 2003, Sunan Abi Daud (6/297).